Digital clock

Daily Calendar

Para Pejuang Agama Islam

Para Pejuang Agama Islam
Para Ulama'

Jumat, 20 Januari 2012

Kisah Tentang Wanita-Wanita Yang Shalihah

Kalam Al Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi

Al Habib Ahmad bin Abdullah bin Husein bin Thahir bercerita kepadaku, “Sekali waktu aku pergi ke rumah saudara perempuanku, Hababah Nur. Dia berkata, “Wahai Ahmad, tolong ambilkan gula dan biji kopi”. Aku naik ke atas loteng, tapi di sana tidak kutemukan apa-apa. Aku kembali menemuinya, “Perempuan tua anak Abdullah bin Husein, kau membohongiku”. Ia menjawab, “Wahai anak ibumu, naik dan lihatlah!” Aku sekali lagi naik ke atas loteng dan tidak menemukan apa-apa. Dia lalu naik ke loteng bersamaku dan membuka lemari, tempat gula dan biji kopi yang tadi kosong, ternyata sekarang telah penuh.

Hababah Nur pernah berkata kepadaku, “Aku mendengar seruan Allah SWT di akhir malam: Bangunlah, mintalah apa saja yang kau inginkan, kebutuhan dunia maupun agama, Aku akan memberimu saat ini juga”. Ayah beliau, Habib Abdullah bin Husein memberinya wasiat:
Wahai Nur,
jika kau menginginkan nur,
dan hati makmur,
dada lapang dan bahagia,
taatlah selalu kepada Allah SWT.
Al Habib Ahmad bin Abdullah juga bercerita, “Suatu hari aku duduk bersama Hababah Nur. Ketika masuk waktu shalat, ia bertanya, “Dimana arah kiblat?” Dengan maksud bercanda, aku menunjuk arah lain, bukan arah kiblat. Ketika ia mulai mengangkat tangannya hendak bertakbir, ia berkata, “Arah kiblatnya bukan ke situ. Kau pikir aku tidak tahu arah kiblat. Demi Allah, aku tidak mengucapkan takbiratul ihram, kecuali setelah benar-benar melihat ka’bah”.
Suatu hari aku berkunjung ke rumah Hababah Nur bersama beberapa orang sahabatku. Hababah Nur berpesan, “Wahai keluargaku, curahkan perhatianmu pada ilmu Fiqih, sebab dengan ilmu Fiqih-lah syariat suci ini akan dapat tegak. Namun masyarakat telah meninggalkan ilmu Fiqih. Padahal ilmu fiqih merupakan inti (agama). Allah…Allah dalam Fiqih, ketahuilah ilmu ini akan hilang.
Dan kau (wahai Ali), hendak pergi ke Tarim, bukan? Jadikanlah semua topik ceramahmu tentang wara’, juga masalah halal dan haram. Sebab, semua yang haram telah tersebar merata dan sikap wara’ telah meninggalkan lembah ini. Anjurkanlah mereka untuk bersikap wara’ dan meninggalkan semua yang syubhat. Ketahuilah, makanan haram akan melemahkan hati”
Perhatikan generasi dahulu, para wanitanya banyak yang Shalihah. Hababah Nur ini hidup di zamanku. Dikatakan bahwa: “Betapa banyak rambut terurai (wanita) lebih baik dari jenggot (pria)” Ibu Habib Abdullah bin Husein bin Tohir lebih agung lagi. Beliau adalah Hababah Syeikhah binti Abdullah bin Yahya. Dari pasangan suami istri ini lahir Habib Husein, Habib Tohir, Habib Abdullah dan Syarifah Khadijah. Syarifah Khadijah adalah ibu Habib Abdullah bin Umar bin Yahya.
Suatu hari Habib Abdulqadir bin Muhammad Al Habsyi yang tinggal di Ghurfah mengunjungi para Habaib yang tinggal di kota Masileh. Mereka semua merasa senang dengan kedatangannya. Orang-orang mengatakan bahwa beliau gemar bermujahadah yang berat-berat dan berulang kali melakukan arbainiyah (khalwat selama 40 hari). Selama dua puluh tahun beliau tidak minum air. Habib Tohir dan Habib Abdullah melaporkan hal ini kepada ibunya, “Wahai ibu, Habib Abdulqadir ini amalnya begini dan begini. Telah dua puluh tahun beliau tidak minum air”.
“Dia lelaki yang baik, perbuatannya baik dan apa yang telah disifatkan oleh orang-orang tentang dirinya sangat baik. Ambilkanlah sebuah teko lalu penuhilah dengan air”, perintah ibunya. “Berikan teko ini kepadanya dan katakan: ibu kami mengucapkan salam dan berpesan agar kau meminum air ini sebagaimana kakekmu Muhammad SAW meminumnya. Keutamaan kaum shalihin terletak pada kemampuannya meninggalkan larangan. Apakah selama dua puluh tahun ini engkau tidak mengerjakan yang makruh; apakah tidak pernah terlintas di hatimu untuk melakukannya? Kalau sekedar ibadah, para wanita tua pun dapat melakukannya. Demikian pesan ibu mereka setelah diambilkan teko yang penuh air.
“Kami tidak berani bersikap kurang ajar kepadanya, Bu”. “Berikan teko ini lalu sampaikan pesanku kepadanya jika kalian menginginkan kebaikan dan keberkahan”. Mereka berdua lalu menemui Habib Abdulqadir dan menyampaikan pesan ibunya. “Benar, ibumu benar. Sungguh dia adalah seorang murabbiyah (pendidik) yang baik. Sungguh beliau sebaik-baik muaddibah (pendidik). Sungguh baik ucapannya. Bawa sini air itu”, jawab Habib Abdulqadir. Setelah teko itu beralih ke tangannya, beliau pun segera meminum airnya.
Suatu hari aku dan Ahmad Ali Makarim berjalan-jalan di kota Bur. Kami berbincang-bincang tentang masalah nafs. Jauh dari situ ada beberapa wanita sedang mencari kayu di tepi sungai yang sudah kering. Tiba-tiba salah seorang dari wanita-wanita itu mendatangi kami dan berkata, “Tidak ada yang merintangi manusia dari Tuhannya kecuali nafs”. Kami berkata kepadanya, “Kau benar, Allah SWT telah memuliakanmu dengan hikmah”. Wanita itu kemudian pergi untuk bergabung kembali dengan teman-temannya. Rupanya pembicaraan kami di-kasyf oleh wanita tadi.
Shaleh bin Nukh berkata kepadaku, “Wahai Habib Ali, aku memiliki anak perempuan yang Shalihah”. “Bagaimana kau tahu dia seorang Shalihah?” “Aku pernah bertanya kepadanya, “Senangkah kau jika ada seseorang yang memberimu satu peti perhiasan?” Dia menjawab, “Wahai ayah, apakah perhiasan ini dapat menyenangkan hati seseorang? Perhiasan hanya akan melukai hati”. Aku bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika kau dapat melihat Allah Yang Maha Mulia?” Mendengar ucapanku ini, ia terjatuh dan menangis selama tiga hari. Apakah ia seorang wanita Shalihah?”
“Ya, dia adalah seorang wanita yang Shalihah, sungguh-sungguh wanita yang Shalihah?” Al Habib Salim bin Abubakar (bin Abdullah Alatas) berkata kepadaku, “Aku pernah mendengar Shaleh bin Nukh dan anak perempuannya berdzikir kepada Allah berdua di rumahnya, suara mereka seakan-akan suara 100 orang”.

Wallahu A`lam

Reaksi:

0 masukan:

Poskan Komentar